Minggu, 09 September 2018

Percayalah, Karena Hidup Itu Nggak Asyik Kalau Cuma Satu Warna

Pernahkan kalian mendengar suatu negara yang bernama "Rwanda"? Ya, Rwanda adalah suatu negara kecil yang berada di wilayah Afrika Tengah. Sebuah negara dengan ciri khas musik reggae yang sempat membuming juga ditanah air beberapa tahun yang lalu. Namun tahukah kalian suatu tragedi memilukan yang terjadi dinegara tersebut? Tragedi ini bahkan menjadi fenomena pembersihan etnis terparah sejak berakhirnya perang Dunia II. Awal mulanya, di Rwanda terdapat dua suku yang cukup berpengaruh di negaranya yaitu suku Tutsi dan Hutu. Pada masa kepemimpinan Presiden Juneval Habyarimana dari suku Hutu, muncul beberapa ekstrimia Hutu yang tidak sependapat dengan pemikiran presiden Habyarimana yang cenderung moderat dan ingin merangkul semua suku yang ada di Rwanda. Pasalnya penjajahan Belgia meninggalkan mindset status sosial berdasarkan suku di negeri Rwanda. Dimana suku Tutsi selalu dianggap lebih tinggi derajatnya dibandingkan suku Hutu, meski suku Hutu adalah suku mayoritas di negara tersebut. Faktor kecemburuan dan kekhawatiran yang kelewatan inilah menjadi penyebab dimana muncul para ekstrimis Hutu yang ingin menjadikan negara Rwanda identik dengan satu suku. Apalagi ketika Presiden Habyarimana yang berpandangan moderat justru memilih perdana menteri yang berasal dari suku Tutsi. Hal tersebut semakin membuat para ekstrimis merasa geram dan akhirnya memberontak. Ironinya, terjadi kecelakaan pada pesawat yang ditumpangi presiden Habyarimana hingga menyebabkan sang presiden meninggal dunia. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kaum ekstrimis untuk membuat propaganda dan menyebarkan hoax melalui media sosial. Pada zaman itu, radio menjadi favorit warga Rwanda dalam mendengarkan berita-berita terkini. Kelompok militan Hutu lalu menghimbau seluruh warga Hutu untuk mempersenjatai diri mereka dengan menggunakan senjata tajam apapun untuk membunuh hingga memperkosa siapapun yang bersuku Tutsi. Himbauan tersebut sontak menyebar dengan cepatnya melalui radio-radio kesayangan warga Hutu yang biasanya digunakan untuk mendengarkan musik-musik reggae hingga berita. Terjadilah pembantaian massal besar-besaran pada saat itu. Negara Rwanda hancur hanya karena segelintir orang yang menebar hoax dan mengadu domba rakyat dan pemerintahannya. Dari cerita diatas, penulis merasa bahwa bangsa Indonesia perlu belajar banyak tentang dampak dari bahayanya "monster HOAX" dari Tragedi Rwanda 2004 atas dasar keprihatinan memantau berita-berita yang bertebaran setiap harinya. Sungguh ironi ketika ada beberapa kelompok yang sengaja menyuguhkan berita hoax dan bertujuan untuk memecah belah NKRI. Mulai dari provokasi untuk membenci pemimpinnya sendiri hingga isu-isu tidak berpendidikan mengenai antek Cina dan PKI yang tidak memiliki bukti yang valid sama sekali. Tak tanggung-tanggung, isu SARA pun digunakan untuk menggoreng suatu berita dan itupun cukup berpengaruh bagi para netizen yang mudah terprovokasi. Tulisan ini hanya sebagai ajakan untuk para pembaca agar mau berpikir terbuka dan berlapang dada dengan pluralitas yang ada dinegara ini. Para pahlawan telah mati-matian memperjuangkan kemerdekaan kita. Sudah menjadi tanggungjawab kita semua untuk mempertahankan kesatuan negara ini, lupakan ego masing-masing. Percayalah, Indonesia adalah negara yang Indah dengan kebhinekaannya. Beragam namun diikat dalam satu kesatuan. Kita adalah bangsa yang kaya gaes. Karena hidup itu gak asyik kalau cuma satu warna. Ya gak sih? Cintai Pancasila Hormati Bhinneka Tunggal Ika Salam Damai untuk kita semua! Ditulis oleh Anisa V. Ala'yun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar